Lomba Inovasi Daerah

Tahun 2024

Lomba Inovasi Daerah

Tahun 2024

Data Inovasi

Nama Inovasi GERAK SEHARI KEARIFAN LOKAL DALAM KEWIRAUSAHAAN SISWA DI SEKOLAH
Bentuk Inovasi Pelayanan Publik
Inisiator Inovasi Nofita Sari, S.Pd
Tahapan Inovasi Penerapan
Jenis Inovasi Non Digital
Urusan Inovasi Pendidikan
Rancang Bangun
SITUASI
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan penulis terkait pelaksanaan pembelajaran di kelas, banyak diantara siswa saat proses pembelajaran menunjukkan tingkat antusias yang minim, kurangnya interaksi yang   diberikan siswa dan cenderung bosan saat belajar. Penyebab kurangnya antusias siswa terhadap mata pelajaran IPS dipengaruhi dari cara pengajaran yang kurang efektif, meliputi kurangnya interaksi antara guru dengan siswa, dan kurangnya penggunaan strategi serta media pembelajaran yang diberikan dalam kegiatan pembelajaran IPS. Sementara itu, pembelajaran IPS merupakan mata pelajaran yang kajiannya mencakup berbagai cabang imu sosial seperti sosiologi, geografi, sejarah dan ekonomi. Dalam hal ini pembelajaran IPS memiliki penjabaran materi yang abstrak.
Agar pembelajaran IPS mudah dimengerti dan dipahami oleh siswa, perlu ditingkatkan dengan beragam metode pembelajaran yang interaktif, inspiratif dan menyenangkan. Metode pembelajaran interaktif yang dapat dilaksanakan dalam mata pelajaran IPS, salah satunya adalah dengan pengembangan melalui pembelajaran berbasis proyek (PJBL).
TANTANGAN
Dari situasi permasalahan tersebut, tercetuslah sebuah gagasan untuk dapat membuat pembelajaran IPS jauh lebih interaktif, dan diminati siswa dengan memanfaatkan kearifan lokal dalam bentuk makanan tradisional sebagai pembelajaran berwirausaha bagi siswa untuk dijadikan sebagai media pembelajaran. Oleh karena itu penulis ingin membagikan salah satu praktik baik dalam pembelajaran IPS yang berjudul “Kearifan Lokal dalam Kewirausahaan Siswa di Sekolah” pada materi Kegiatan Ekonomi kelas VII.
Pemilihan topik materi ini dianggap relevan untuk dijadikan praktik baik karena dari analisis penulis banyak sekali guru memberikan pengalaman belajar yang kurang efektif sehingga penulis mencoba memanfaatkan media pembelajaran berupa proyek siswa dalam materi kegiatan ekonomi berupa aktifitas jual beli yang dilaksanakan dilingkungan sekolah, dimana siswa sebagai pusat dalam kegiatan tersebut. Dalam hal ini siswa melakukan kegiatan ekonomi berupa kegiatan produksi yang dimana siswa memproduksi makanan tradisional kabupaten Natuna. Setelah itu dilanjutkan dengan kegiatan Distribusi, dalam kegiatan ini siswa membuka bazar – bazar makanan tradisional dilingkungan Sekolah dan juga mendistribusikannya secara langsung ke masyarakat dilingkungan sekolahnya.  Selanjutnya siswa juga melakukan kegiatan konsumsi,yang  dimana siswa mengkonsumsi makanan yang mereka jual atau pun makanan yang dijual oleh teman – temannya.
AKSI
Tindakan yang dilakukan penulis dalam mengimplementasikan praktik baik dalam proses pembelajaran yang berjudul “Kearifan Lokal dalam Kewirausahaan Siswa di Sekolah” dimulai dengan melakukan perencanaan kegiatan pembelajaran, penulis menyusun strategi yang tepat dalam menciptakan suasana pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan, penulis juga melakukan konsultasi kepada kepala sekolah dan rekan sejawat untuk dimintai saran serta masukkan terkait dengan pemanfaatan media pembelajaran berkearifan lokal.
Selanjutnya penulis merancang pembagian kelompok siswa berdasarkan survei kemampuan kognitif dimulai dari kemampuan memahami pembelajaran secara visual, audio maupun kinestetik sehingga saat pelaksanaan pembelajaran siswa lebih mudah untuk memahami materi sesuai dengan tingkat kemampuannya (Diferensiasi).
Dalam pelaksanaan pembelajaran, penulis menggunakan model pembelajaran Project Based Learning, langkah pembelajaran dimulai dengan memberikan stimulan kepada siswa melalui beberapa pertanyaan yang terkait dengan materi pembelajaran, selanjutnya membentuk kelompok sesuai dengan rancangan yang ditetapkan penulis sebelumnya. Siswa bersama teman kelompoknya menggali informasi di ruang perpustakaan untuk memunculkan rasa semangat dan motivasi dalam belajar. Setelah itu siswa bersama teman kelompoknya menentukan dan menyusun proyek yang akan mereka lakukan, setelah menyusun proyek selanjutnya siswa menentukan jadwal untuk pelaksanaan proyek tersebut.
Kegiatan inti siswa adalah kegiatan berbasis student center dengan kecakapan abad 21 dimana siswa bersama kelompoknya memanfaatkan alat dan bahan sederhana dalam pembuatan proyeknya yaitu makanan tradisional yang ada di Kabupaten Natuna. Setiap kelompok mendapat pembagian tugas berdasarkan tingkat pemahaman (diferensiasi), kelompok visual bertugas untuk membuat bahan presentasi dikertas karton yang menjadi bahan presentasi hasil kerja kelompok di depan kelas. kelompok audio bertugas untuk mencari informasi sedangkan kelompok kinestetik membuat produknya yaitu makanan tradisional kabupaten Natuna.
Pembagian tugas bertujuan untuk membuat setiap siswa berperan aktif dalam belajar dan memahami konsep materi pembelajaran sesuai dengan cara siswa dalam memperoleh ilmu pengetahuan. Hasil kerja kelompok siswa diperjual belikan dalam bentuk bazar dilingkungan sekolah dan nantinya akan dipresentasikan di depan kelas. Setiap siswa saling menilai dan mengevaluasi hasil kerja kelompok, diakhir pembelajaran penulis melakukan refleksi bersama siswa dan melakukan penilaian pengetahuan dengan memanfaatkan teknologi berupa aplikasi quiziz agar proses pembelajaran lebih menyenangkan.
HASIL
Dampak yang dapat terlihat dari praktik baik yang telah dilakukan ini dapat penulis rangkum menjadi tiga poin utama, pertama praktik baik yang dilakukan dapat menyelesaikan permasalahan siswa yang kurang antusias, merasa bosan dan kurangnya interaksi yang diberikan siswa dalam pembelajaran. Dapat mengenalkan makanan tradisional (kearifan lokal) untuk  menumbuhkan rasa cinta budaya kepada siswa , selain itu sebagai media pembelajaran IPS yang inovatif yang dapat dikembangkan oleh pendidik dalam rangka meningkatkan kemampuan komunikasi, interaksi serta keaktifan belajar siswa. Dari survey yang dilakukan penulis terkait praktik baik yang telah dilakukan mendapat respon positif baik dari segi keaktifan siswa maupun peningkatan hasil belajar dalam materi kegiatan ekonomi.
REFLEKSI
Refleksi yang dapat penulis lakukan dari praktik baik ini yaitu, penulis akan senantiasa belajar dan berbenah diri untuk dapat memberikan kontribusi terbaik dalam menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna bagi siswa. Penguasaan pedagogik untuk menganalisis tingkat kebutuhan siswa terhadap suatu pelajaran sangat penting untuk dapat menciptakan pembelajaran yang dapat diterima oleh seluruh siswa. Pembelajaran dengan melestarikan budaya daerah (Kearifan lokal) merupakan suatu yang patut untuk didalami oleh penulis sehingga penulis dapat memberdayakan budaya daerah menjadi sarana belajar yang edukatif dan interaktif bagi siswa.
Tujuan Inovasi 1. Meningkatkan Minat dan antusias siswa dalam belajar pada pelajaran IPS
2. Menumbuhkan dan melestarikan kepada siswa cinta budaya daerah sejak dini melalui kegiatan kewirausahaan
Manfaat Inovasi
Dengan adanya inovasi daerah yang telah dibuat ini dapat memberikan pengalaman belajar yang jauh lebih bermakna dan menumbuhkan minat siswa dalam belajar yang dikemas berbentuk kegiatan berwirausaha dengan memanfaatkan kearifan lokal berupa makanan tradisional sebagai media pembelajaran,
Hasil Inovasi

HASIL

Dampak yang dapat terlihat dari praktik baik yang telah dilakukan ini dapat penulis rangkum menjadi tiga poin utama, pertama praktik baik yang dilakukan dapat menyelesaikan permasalahan siswa yang kurang antusias, merasa bosan dan kurangnya interaksi yang diberikan siswa dalam pembelajaran. Dapat mengenalkan makanan tradisional (kearifan lokal) untuk  menumbuhkan rasa cinta budaya kepada siswa , selain itu sebagai media pembelajaran IPS yang inovatif yang dapat dikembangkan oleh pendidik dalam rangka meningkatkan kemampuan komunikasi, interaksi serta keaktifan belajar siswa. Dari survey yang dilakukan penulis terkait praktik baik yang telah dilakukan mendapat respon positif baik dari segi keaktifan siswa maupun peningkatan hasil belajar dalam materi kegiatan ekonomi.

 

REFLEKSI

Refleksi yang dapat penulis lakukan dari praktik baik ini yaitu, penulis akan senantiasa belajar dan berbenah diri untuk dapat memberikan kontribusi terbaik dalam menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna bagi siswa. Penguasaan pedagogik untuk menganalisis tingkat kebutuhan siswa terhadap suatu pelajaran sangat penting untuk dapat menciptakan pembelajaran yang dapat diterima oleh seluruh siswa. Pembelajaran dengan melestarikan budaya daerah (Kearifan lokal) merupakan suatu yang patut untuk didalami oleh penulis sehingga penulis dapat memberdayakan budaya daerah menjadi sarana belajar yang edukatif dan interaktif bagi siswa.

Waktu Ujicoba 15-02-2023
Waktu Implementasi 20-04-2023

Keterisian Indikator

No Indikator Keterangan Parameter Bukti Dukung Skor
1 Regulasi Inovasi * Regulasi yang menetapkan nama-nama inovasi daerah yang menjadi landasan operasional penerapan inovasi daerah
2 Ketersediaan SDM Terhadap Inovasi Daerah * Jumlah SDM yang mengelola inovasi daerah (Tahun Terakhir)
3 Dukungan Anggaran Anggaran Inovasi Daerah dalam APBD dengan tahapan inisiasi (Penyampaian ide, rapat, proposal, penulisan kajian), ujicoba (pilot project, perekayasaan, laboratorium lapangan, dan sejenisnya), dan penerapan (penyediaan sarana prasarana, sumber daya manusia dan layanan, bimtek, urusan jenis layanan)
4 Alat Kerja Alat kerja dalam pelaksanaan Inovasi yang diterapkan
5 Bimtek Inovasi Peningkatan kapasitas dan kompetensi pelaksana inovasi daerah baik sebagai penyedia atau penerima bimtek
6 Integrasi Program Dan Kegiatan Inovasi Dalam RKPD Inovasi Perangkat Daerah telah dituangkan dalam program pembangunan daerah
7 Keterlibatan aktor inovasi Keikutsertaan unsur Stakeholder dalam pelaksanaan inovasi daerah (T-1 dan T-2)
Unsur Stakeholder meliputi:
Pemerintah;
Pelaku Bisnis;
Komunitas;
Akademisi;
Media Massa, dsb
8 Pelaksana Inovasi Daerah Penetapan Tim pelaksana inovasi daerah
9 Jejaring Inovasi Jumlah Perangkat Daerah yang terlibat dalam penerapan inovasi (dalam 2 tahun terakhir)
10 Sosialisasi Inovasi Daerah Penyebarluasan informasi kebijakan inovasi daerah (2 tahun terakhir)
11 Pedoman Teknis Ketentuan dasar Penggunaan inovasi daerah berupa buku petunjuk/manual book
12 Kemudahan Informasi layanan Kemudahan mendapatkan informasi layanan
melalui metode sebagai berikut :
Manual, seperti: tatap muka/jemput bola/noken/unit pelayanan administrasi;
Hotline, seperti: layanan email/telp;
Media Sosial, seperti: instagram/facebook/whatsapp, dsb;dan
Layanan Online, melalui website/web-aplikasi/aplikasi mobile (android atau ios).
13 Kemudahan Proses Inovasi yang Dihasilkan Waktu yang diperlukan untuk memperoleh proses penggunaan hasil inovasi
14 Penyelesaian Layanan Pengaduan Rasio Penyelesaian Pengaduan dalam tahun terakhir (Jumlah Pengaduan yang ditindaklanjuti/Jumlah Pengaduan
15 Layanan Terintegrasi Jaringan Prosedur yang dibuat secara daring (2 tahun terakhir)
16 Replikasi Inovasi Daerah telah direplikasi oleh daerah lain (T-2 s/d T-1)
17 Kecepatan Inovasi * Satuan waktu yang digunakan untuk menciptakan inovasi daerah
18 Kemanfaatan Inovasi * Jumlah pengguna atau penerima manfaat inovasi daerah (2 tahun terakhir)
19 Monitoring dan evaluasi Inovasi Daerah Kepuasan pelaksanaan penggunaan inovasi daerah (2 tahun terakhir)
20 Kualitas Inovasi Daerah * Kualitas inovasi daerah dapat dibuktikan dengan video penerapan inovasi daerah (2 Tahun Terakhir)
Data Pendukung:
ketentuan video memvisualisasikan 5 substansi:
1. Latar belakang inovasi;
2. Penjaringan ide;
3. Pemilihan ide;
4. Manfaat inovasi; dan
5. Dampak inovasi.
Video inovasi dilengkapi dengan cover thumbnail dan ada logo Kabupaten Natuna dan Kemendagri.